Saturday, November 07, 2009

Do they change?

Pernahkah Anda berhenti mencoba? PASTI.
Kalau tidak istilah ujung jalanan menghilang dari kamus kita.

Pernahkah Anda berhenti berharap? BISA JADI.
Makanya ujung harapan jadi nama tempat yang cukup terkenal.

Suatu hari saya pernah melakukannya, berhenti mencoba sekaligus berhenti berharap.

Tiga ratus enam puluh hari kali berapa bagian, saya menemukan suatu hal yang menggetarkan. Suatu hal mustahil dan terlebih mustahil. Saya menemukan cinta. Seperti Lazarus yang bangkit kembali. Seperti nisan bertulisan Rest in Peace yang dibongkar dan dihapus dari takdir. Suatu hal yang ternyata masih ada; cin-ta dan kesetiaan.

People do change. Walau saya tak pernah mengerti kenapa kesetiaan ini muncul dari pengkhianatan.

People DO change.

Sunday, June 22, 2008

Pena Dansa

by A. Tiara Widjanarko

One….two…three…four…..tap…
tap..tap, langkah-langkah kaki mengayun seiring irama Samba. One….two…three…four….cha…cha..cha! Seperti itulah topik bermain di neuron otakku, dengan ketukan yang sama, tempo yang serupa. Diikuti gerakan pensil yang ditoreh pada selembar kertas kosong.

“Jadi bagaimana cara kita untuk menghindari kecenderungan memakai data data dan data dalam tulisan kita?” Lia, salah seorang peserta kursus Jurnalisme Sastrawi melontarkan pertanyaan tersebut.

“Ya, tergantung kepada siapa kamu menulis, apakah itu audience umum, atau hanya untuk jurnal. Kata-kata jangan ada yang berulang dalam satu kalimat, kalau bisa dalam satu paragraf,” tutur Goenawan Mohammad.

Semua peserta menyimpan begitu banyak pertanyaan di benak mereka. Tapi hanya sedikit yang berani angkat bicara. Tentu sulit menulis tanpa mengulang kata yang sama. Jangankan demikian, terkadang kata “dan” saja seperti jamur tumbuh di permukaan batang pohon Enoki. Banyak tanpa disadari!

“Jangan terlalu banyak menyajikan data dalam satu paragraf. Lebih baik dibagi-bagi. Jangan juga terlalu detail tanpa data hingga melayang-layang.”, jelasnya lebih lanjut.

“Menulis itu butuh latihan. Setiap hari saya latihan menulis. Sekali menulis saya bisa sampai empat jam. Yang paling lama bagian ngeditnya,” ujarnya sembari tersenyum.

Bayangkan, untuk orang yang sudah dianggap dewa oleh sebagian penulis di Indonesia saja, GM; begitu dia sering disapa, masih mengalami kesulitan menulis pendek. Menulis harus fleksibel, menggunakan catatan kaki kalau memang perlu, begitu imbuhnya.

Well, that means I have to start writing. Menulis jadi mirip berdansa buatku. Untuk mahir kita butuh latihan. Menggunakan perasaan, fleksibel dan luwes. Tak ada salahnya bukan kita menggunakan ketukan-ketukan yang sama?

“When my rimbo rhytms start to play, dance with me, make me sway. Like a lazy ocean hugs the shore, hold me close, sway me more.”, penggalan lagu yang satu ini cocok dengan moodku sekarang.

Sungguh, berdansa kini aku dengan penaku. Rasanya? U should try it yourself!

First recipe as homework

Seratus, seratus lima puluh, dua ratus…yaaaa stop! Jangan sampai lewat dari pakem yang sudah ditentukan. Cukup 200 gram tepung terigu, setengah sendok makan ragi instan, setengah sendok teh garam, 50 gram gula pasir.

Satu per satu bahan dimasukkan ke dalam mangkuk besar. Perlahan adonan diaduk seputar arah jarum jam, tentunya pakai spatula, spa-tu-la, bukan spa-tu. Boleh kayu, boleh plastik, atau bahan apapun yang terjaga kehigienisannya.

Jadikan spatula, adonan, mangkuk besar sebagai kawan lama tangan yang sedang mengaduknya. Begitu erat, akrab, dan hangat. Namun jangan pernah lengah, karena beberapa detik tengah mengintai, pelan-pelan mencuri kesempatan. Saat tangan pegal mengaduk, adonan bisa jadi tak sempurna.

Lolos dari babak pertama, selanjutnya susu yang dapat giliran untuk bergabung. Hanya 250 ml susu cair yang dapat ambil bagian. Biarkan saja mereka saling mengakrabkan diri selama 30 menit tanpa perlu diganggu gugat.

Dan coba lihat, siapa yang akhirnya memutuskan untuk bergabung. Lima puluh gram mentega leleh dan dua butir telur menempati gerbong terakhir dalam adonan. Mereka masih terus menerus diaduk hingga solid.

Wajan berupa cetakan bulat berukuran sedang mulai dipanaskan di atas api. Tangan yang terampil lalu mengoleskan mentega tipis-tipis dengan bantuan kuas. Satu per satu, lubang yang di kanan lalu yang kiri. Hingga rata semuanya dan mulai terdengar suara gemericik mentega yang panas.

Harum. Legit. Mengundang. Adonan pun dituangkan hingga tiga per empat lubang. Kata orang, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Demikian pula perkara yang satu ini. Biarkan hingga sekeliling adonan mengering. Lalu hop! Cungkil dan balikkan dengan ujung garpu atau tusuk sate. Tapi tolong, lagi-lagi bersihkan dahulu. Jangan sampai masakan yang satu ini hasil akhirnya berasa sate.

Tunggu hingga kuning kecoklatan dan angkat. Sajikan di piring dan hidangkan dengan taburan gula halus. Bisa juga dengan sirup maple yang luwes, kayu manis yang suka memberi kejutan, atau topping apapun semau Anda. Tapi kalau saos duren dan nangka yang jadi pilihan, sebaiknya Anda mulai mempertimbangkan memasak kue serabi dibanding poffertjes, yang katanya pencuci mulut terbaik ala Londo!

Simply 25

Atas bertambahnya usia, dan berkurangnya masa hidup; mengutip salah satu isi sms yang masuk ke inbox hari ini, sungguh menyenangkan bisa memilih segala sesuatu tanpa keterbatasan.

My simply 25, proyek setahun ini atau kalau boleh dirumuskan beberapa bulan saja nampaknya cukup sukses. Tanpa perayaan yang berarti, hanya berbasiskan reminder di fs dan fb, lebih dari 100 ucapan selamat dan doa yang mendarat.

Berarti misi berjalan lancar dan saya cukup "berhasil" sebagai seorang manusia. Genapnya usia seperempat abad, rupanya kehadiran saya cukup memberi arti. Semoga akan terus demikian adanya.

Karna pada setiap hari yang baru,
kita berkesempatan menjadi yang lebih baik.
Dan satu-satunya batasan adalah pikiran kita.

Betul atau Salah

Betul atau salah,
demikian betul belum tentu benar,
tapi benar sudah tentu betul.

Bukan suatu kebetulan,
aku menemukan kebenaran dalam dirimu.

Seperti orang asing yang masuk ke dalam taksi,
dan diberi pertanyaan, "Mau pergi kemana?"

Kemanapun dia akan dibawa,
satu-satunya hal yang menentukan,
adalah dia tahu kemana tujuannya.

Jadi pada suatu petang aku bertanya pada aku,
hendak kemana aku ingin berada,
bukan pergi lagi pertanyaannya.

Lalu aku menemukan kebenarannya pada dirimu.
Bersinar begitu saja dari kedua matamu,
dari dalam utuhmu.

Mungkin kau benar,
semua sudah ada dalam diriku.
Yang perlu kulakukan adalah tahu apa yang aku inginkan.

Thank you,
I've found my God in you, through you.
He really-really made us ONE.

Monday, January 07, 2008

Jatuhnya Bulan Rambutan

Aku suka jatuhnya bulan rambutan, begitu kunamakan bulan yang paling buntut. Bukan karna besar dan warnanya, bukan juga karna mereka-mereka itu jatuh karna sukarela. Aku menyukai manisnya udara di sekitar pohon-pohon yang rimbun itu. Jauh menandingi manisnya gulali, jauh memikat dari merdunya seruling bambu, dan sungguh, jauh-jauh lebih menyejukkan dari pagi hari kian membekukan tiap makhluk di perkebunan milik kakek.

Manis itu lengket, katamu. Bisa jadi, mungkin itu juga sebabnya aku mau menunggu sebelas bulan lamanya untuk dekat dengan mereka. Aku menunggu dengan sabar, mengusir puluhan bahkan ratusan ulat pemakan daun pohon kesayanganku itu. Mereka datang setelah hujan berhenti turun, seakan-akan tahu kesedihan selalu mengintai dan kembali menyerbu setelah titik air mata terakhir kuseka.

Pohon-pohon itu meranggas, kehabisan daun untuk menutupi ketelanjangan mereka. Tapi bahkan aroma manisnya masih terasa, tidak menghilang ketika tumpukan daun yang rontok, tempat media berkembang ulat digusur pergi. Itu saat yang aku tahu, yang terus menerus kuingat, manis tidak akan berangsur-angsur asin, lalu kuseka air mata terakhir yang jatuh.

Thursday, June 07, 2007

Hari Keramat dan Hadiah Penyelamat

Tanggalan dalam wujud nyata mungkin gak pernah bikin bingung, tapi untuk beberapa orang ada tanggalan tertentu yang dianggap mematikan! Tentunya tidak jauh dari urusan 'hari-hari besar' non 'tanggalan merah', yang merupakan hari ulang tahun, anniversary, yadda yadda yadda...

Sebenarnya penting gak sih merayakannya dengan kado? Jangan salah, kado terkadang menjadi penyelamat bila ingatan anda tidak mumpuni. Bayangkan bila hari sudah menjelang siang dan anda baru tersadar bahwa ada teman dekat atau kerabat yang berulang tahun (tentunya tanpa anda sempat memberikan selamat padahal anda sudah bertemu dengannya).

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan; yang pertama, menghampiri, berterus terang, meminta maaf dan mengucapkan selamat (dengan tambahan : kadonya menyusul ya!). Yang kedua, diam saja dan mengucapkan selamat tepat sebelum hari berakhir. Taruhlah pk 23.59 dengan alibi, biar jadi orang terakhir yang mengucapkan, akan diingat sampai kapan pun. Yang ketiga, lari tunggang langgang mencari kado agar bisa mengucapkan selamat tanpa tangan kosong. Setidaknya yang terakhir ini bisa menyelamatkan muka anda, karena ketahuan lupa hari ulang tahunnya.

Kalau anda malas melakukan ketiganya, paling tidak anda bisa mengatakan begini..tradisi merayakan ulang tahun dibawa oleh beberapa budaya asing yang masuk ke Indonesia. Misalnya lagu "Happy Birthday to You" diciptakan pada tahun 1893 oleh dua perempuan bersaudara berkebangsaan Amerika Serikat. Ingatan saya biasa-biasa saja, jadi kamu berharap saya mengingat tradisi beratus tahun yang lalu?! =)

And then just pray and hope he/she wont do the same thing to you..du dee dam..

Tuesday, May 15, 2007

Today's Perfect Lesson

Hari ini saya mendapat sebuah pelajaran paling singkat, dengan harga paling mahal. Total biaya kursus 4,5 jt dengan durasi pengajaran 3 jam saja. Terlalu percaya dan menganggap semua orang berniat baik, tanpa ingin mencelakakan, rupanya adalah kesalahan. Anggaplah intuisi belum terlalu terasah, tentu mendengar 'suara' ibunda adalah hal yang baik.

Jadi ceritanya hari ini saya tertipu 4,5 jt. Hendak membeli handphone merk tertentu (saya dendam, tidak ingin menyebut merk karena nanti jadi pesan sponsor) yang 40% lebih murah dari harga asli. Belinya dari temannya si Tika, transaksi via atm dan telepon. Usut punya usut, teman Tika yang mengaku bernama Vita Lusiana adalah gadungan! Alhasil selesai ditransfer, menghilanglah empunya nomer telp 081399433336 dan 081399262299!

Cerdas sekali puan satu ini. Akhirnya malam ini dihabiskan dengan membuat BAP di Polres Jaksel. Percaya teman itu boleh. Punya positif thinking ke orang lain memang hal yang menyenangkan untuk mental pribadi. TAPI! Yang gini-gini nih yang bikin saya berfikir bahwa kewaspadaan juga harus ditingkatkan...

Kata daddy, uang bisa dicari. Masih untung saya gak diajak ikutan ambil hp-nya. Macam saudara sepupu saya yang 3 hari diculik, didoktrin, dan dibrain-washed senior2nya di NII. Itu baru, 'kerugian' besar-besaran!

Sunday, May 06, 2007

Penggunaan otak di pagi hari..

Ini otak sepertinya lebih berfungsi di pagi hari. Coba aja telp 0811-95**** dan bicarain ke gue suatu hal yang bisa menggelitik. Entah itu urusan sosial sampai bicara tentang topik-topik bungkus kacang. Hal-hal yang selalu menimbulkan pro kontra dari ujung telinga, gendang, sampai neuron otak. Wham! Dan bisa didapatkan serentetan kalimat yang kembali me-review apa-tadi-yang-loe-bicarain.

Pingin naruh tape recorder di samping tempat tidur, tapi yang lebih penting lagi..orang yang bisa 'menggelitik' itu loh..ada rekomendasi?

Monday, April 30, 2007

fck with all of this

Pertama kalinya gw ngerasa kayak gini lagi. Dipersalahkan untuk segala sesuatu yang baru gw pelajarain. Gw kira jujur itu enak, klo gw gak ngerti ya gw bilang gak ngerti ke nyokap. Kalo emang nyokap maunya gw basa basi ya gw bilang apa yang dia mauin. Tapi terus kenapa gw sekarang jadi dibilang cuma mikirin diri sendiri? Emang gw hidupnya cuma buat ngejaga image dia doang di depan umum?

Emang gw keliatan sekarang kurang sibuk kok. Emang gw kerjaan cuma leyeh-leyeh gak keruan di rumah, ngutak ngatik laptop dengan semua yang gak masuk ke otaknya. Tapi emang dia tahu apa yang ada di otak gw? Dia tau apa yang lagi gw pusingin? Dia tau apa masalah pribadi gw? Dia tau klo gw ngerasa SEPI dan SENDIRI banget ditinggalin sm orang-orang yang gw pikir bisa sll bantu dan ada buat gw?

Kemana mereka? Kemana dia?

Thursday, April 26, 2007


Mainan terbaru sayaaaaa...dibeliin my Dad =')

Monday, April 23, 2007

Aku jatuh cinta padamu, tepat di pandangan pertama, di suatu senja yang masih kerap menyapa. Aku tidak tahu bagaimana kau akan menyikapi harapan, mimpi, tanda tanya, gerutuan, celoteh, hingga petir yang suka berlabuh sempurna di bilik emosiku. Menyukai hingga mencintaimu sungguh mudah dilakukan, bahkan enam bulan berjalan sempurna. Lalu aku yang bebal ini baru menyadari bahwa kau adalah puzzle terakhir yang melengkapi perjalanan panjangku, untuk kemudian berhenti di serambi berwarna cokelat tua milik kita.

Aku mencintai kata. Aku mencintai kamu. Dengan kata-kata aku mencurahkan semua rasa, seperti hujan yang jatuh di bumi, awan yang bergurau dengan langit biru, bahkan keheningan malam yang paling mencekam. Aku, aku, aku benar-benar jatuh padamu, mu, mu.

Saat ini, satu tahun berlalu, dengan baku hantam yang sudah begitu sering dan memar yang lebih dari sekedar luka badan, masih sangat aku menghafalmu dengan kesempurnaan kata, yang masih terus menerus kurang untuk menggambarkanmu.

Walau aku rindu, tapi tak mengapa; kehangatan kata dan kokoh matamu yang melindungiku bahkan dari terik yang menghanguskan hari Senin.

Aku akan menyimpan kata-kata manismu, di sudut otak yang masih lengang dan tak pernah ramai.

[pada saat jatuh cinta kuberikan kata dan suka, walau tidak hati..saat aku benar-benar mencinta, andai hati masih bisa kuberi tanpa sebuah tanda tanya dan ragu yang besar..aku merindu, sangat..kata dan suka darimu..kenapa harus berbeda, kenapa harus berubah? kenapa harus berhenti saat kau melihatku dari kacamata ketidaksukaan dan benci? aku tetap dan sama..]